Memandang dengan Kacamata yang Berbeda

Hari itu, aku pulang ke rumah orang tua.  Seperti biasa, aku di drop di rumah orang tua karena suami akan kembali bekerja di Cilegon *yah ditinggal lagi deh :(*.  Kenapa di drop kerumah ortu? sederhana aja, aku paling takut malem2 ada di rumah sendirian. Itulah sebabnya aku juga jarang ke Cilegon, padahal di Cilegon, suami mengontrak rumah yang cukup nyaman.  Akan tetapi, kalo dia lagi kerja, seringnya tengah malem baru pulang. Akhirnya suami juga gak tega memboyong aku ke Cilegon.  Pilihan akhirnya kembali ke rumah ortu dan membiarkan rumah singgah kami di Jakarta kosong, sampai suami pulang ke Jakarta. Lagipula, aku juga lebih nyaman mudik ke rumah ortu aja *dasar anak emak:P*…Well, balik cerita ke rumah ortu.

Sampe rumah orang tua, aku mendapati ada penghuni rumah baru, bukan manusia, bukan hewan, bukan tumbuhan, apalagi jin *heh*.  Ini cuma sebuah barang hasil kerajinan dari bunga kering dan pinus, dengan ukuran yang cukup besar berwarna pink mencolok.  Bunga itu juga sudah bertengger dengan manis di sudut ruangan tamu.  Usut punya usut, ternyata Ibu aku baru beli di Taman Matahari, saat jalan-jalan ibu-ibu se-RT (kenapa gue gak diajak sih *ngarep*).

cheap canadian generic viagra

Awal kali aku melihat barang itu, sejujurnya aku kurang suka.  Model, ukuran serta warna yang mencolok tidak bisa mencuri hatiku. Malah, menurut aku barang itu cuma menuh-menuhin ruang tamu, yang memang sudah penuh dengan barang, sekaligus nambah-nambahin kerjaan buat  bersihin debunya *itu sih emang gue aja yg males :D*

Ini dia si bunga pinus

Dalem hati kecil sempat agak bersungut, “Ngapain juga Ibu beli beginian”.

Dengan raut muka yang tidak antusias sama sekali, aku pun akhirnya berseloroh, “Bunga begini bikin banyak debu, Bu”.

Ibu senyum saja saat itu.

Ibu kemudian mendekati aku yang saat itu sedang bengong gak jelas di depan si penghuni baru.

“Kamu boleh bawa bunga ini. Ini bisa di taruh di rumah dan kantor kamu”.

Dengan cepet aku langsung menggelengkan kepala. Bukan apa-apa, rumah yang sekaligus menjadi kantor kami itu sudah cukup penuh dengan bunga-bungaan.  Pasalnya, 2 minggu yang lalu, saat menemani mertua menengok salah-satu rumahnya yang ada di kawasan Bekasi, semua bunga-bungaan dirumah itu praktis pindah kerumah kami. Alasannya, tentu saja, karena rumah di Bekasi tidak ada penghuninya. Jadi, daripada dibiarkan tak terurus dan berdebu, jadilah sibunga-bungaan itu “nengkri” di tempat kami (Padahal sampai saat ini, itu bunga juga masih berdebu serta pasrah tak berdaya di belakang rumah…oh!).

Dalam keterbengongan aku terhadap si penghuni baru, ibu kemudian melanjutkan perkataannya, “ Ibu beli warna ini, karena ingat kamu suka warna Pink”.

Saat itu aku langsung terdiam.  Mengurut-urut dan mencerna kembali semua perkataan ibu.  Tiba-tiba aku merasa sangat-sangat bersalah.  Koq yo tega-teganya aku menampakan rasa ketidaksukaan terhadap barang yang ibu beli.  Tega-teganya aku bersungut-sungut gak jelas.  Padahal apa yang ibu beli itu karena dia ingat sama aku.  Apalagi ibu juga ingat apa warna kesukaan saya *mewek di dalam hati*.

Aku merasa berdosa dan sangat arogan saat itu.  Hanya masalah sepele aja, koq ya segitunya saya memperlihatkan rasa gak suka.  Lagipula apa yang ingin ibu beli juga ya terserah ibu.  Kalo di-ingat-ingat lebih jauh juga apapun yang ia beli kecuali pakaian yang dipakai di badan, hampir semuanya untuk anak dan suami.  Pernah ketika itu aku mau belanja, aku tanya apa yang mau ibu beli, Ibu cuma jawab, “Beliin aja ibu loyang Pizza, ibu mau buat Pizza karena kamu suka makan Pizza.”  Kali lain aku pernah mendapati sebuah gaun hitam di kamar saya. Tak lain dan tak bukan itu adalah gaun yang dibelikan ibu untukku. Setelah aku ulik darimana ibu mendapatkan gaun itu, ternyata Ibu mengkhususkan diri arisan demi mendapatkan si gaun hitam itu…*oooh  tisu mana tisu:’(*. ( Padahal kejadian-kejadian itu terjadi saat aku sudah memiliki suami loh).

Ya Tuhaaan aku jadi merasa bersalahhh…sangatt 😦

Back to the topic, entah bagaimana, akhirnya aku mulai menyukai penghuni baru di sudut ruang tamu itu.  Memang kadang kala diperlukan kaca mata yang berbeda, untuk melihat sesuatu menjadi lebih bernilai.

Kini bagi aku, Bunga-bunga pink di sudut ruang tamu adalah bunga kering yang sangat buy female viagra cantik. Tak hanya sebagai hiasan rumah saja, tetapi ada kasih di dalamnya.  Kelopak bunganya yang mekar seakan melambangkan kehangatan dari ibu yang tidak akan pernah kuncup, sementara warna Pinknya yang mencolok seolah menyiratkan cinta yang kuat. Ya, cinta dari seorang Ibu yang tak pernah gengsi untuk diungkapkan. *lebay…bay…bay…bay*

I love you Ibu, maafkan anakmu yang kadang suka bersikap seenaknya.

Apapun yang ibu beri ke aku sudah lebih dari cukup :).

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s