Cerpen : Garis Batas

Aku membisu dalam malam yang kaku. Dinding-dinding putih sombong berdiri tegak,dingin seangkuh malam. Aku melihat ke arah sekeliling, tempat yang sama sekali tidak aku kenali. Kulempar pandangan ke segala penjuru, mencoba menganalisis keberadaan ku sekarang. Entah kenapa aku jadi terkena “pikun” seketika. Tak tahu ada dimana, tak tahu sedang apa.

Aku mencoba mengumpulkan kembali serpihan-serpihan ingatan ku, sambil terus memutar memandangi sekitar. Aku berjalan melewati lorong-lorong ruangan, melewati dinding-dinding yang bisu, sambil terus mencari jawaban. Aku merogoh-rogoh saku celana berharap ada petunjuk disana, setidaknya aku bisa menghubungi seseorang lewat ponsel. Namun, aku hanya bisa kecewa, karena ternyata aku sama sekali tidak menemukan ponsel disaku celana ku. Bahkan, sepeser uang pun tidak ada. Lengkap sudah kebingungan ku, aku tidak memakai tas, tidak membawa ponsel, juga tidak membawa sepeserpun uang.

Langkahku terhenti pada sebuah “plang” penunjuk arah berwarna dominan hijau, disana tertulis nama-nama ruangan serta tanda panah-panah kecil di sebelahnya. Semakin aku baca, semakin aku menyadari sedang berada dimana aku sekarang. Beberapa informasi disana tertulis R.Anggrek  dengan tanda panah kecil ke arah kanan, R.Melati dengan tanda panah kecil ke arah kiri dan sederet nama-nama aneka bunga lengkap dengan petunjuk arahnya. Dari informasi itu, dari lorong-lorong yang aku lalui, sudah bisa disimpulkan, aku sedang berada di sebuah rumah sakit. Biasanya rumah sakit memang memakai nama-nama sesuatu untuk kamar rawat inap mereka. Meskipun aku tahu sekarang ada dimana, namun masih tersimpan pertanyaan, untuk apa aku disini?

“Tap..tap..tap…” aku mendengar suara langkah kaki. Kedengaran dari langkah kakinya yang semakin cepat, nampaknya orang tersebut tengah terburu-buru. Sosok itu kemudian semakin terlihat, seorang wanita berseragam putih dan bertopi khusus berjalan mendekat. Tidak salah lagi, itu adalah perawat. Aku bersyukur di dalam hati, aku bisa bertanya kepada perawat itu, mungkin saja sang perawat bisa membantuku mencari jawaban.

“Suster… Suster”, panggilku kepada sang perawat.

Sang perawat mengacuhkan, dia berjalan semakin cepat, wajah nya menegang. Aku mangikuti dia sambil terus memanggil-manggil sang perawat. Kali ini dia berjalan setengah berlari, aku tergopoh-gopoh mengikutinya. Dalam hati, aku memuji juga langkah kaki perawat muda yang usianya mungkin lebih tua diatas ku beberapa tahun.

“Gile juga ni suster, jalannya cepet amat” rutuk ku didalam hati.

Sang perawat sama sekali tidak menoleh ke arah ku, dia berjalan memasuki lorong kemudian menuju arah lift. Belum sempat aku bertanya kembali, dia sudah masuk kedalam lift, tangan-tangannya yang kecil, lincah menekan tombol dan seketika pintu lift menutup. Sang perawat sama sekali tidak memberiku kesempatan untuk mengikutinya. Lagi-lagi aku hanya termangu di depan lift.

Setengah kesal aku mengumpat dan berspekulasi di dalam hati. “ Sumpe deh ni rumah sakit, susternya cuek gila. Hmm mungkin suster itu sedang ada pasien yang sedang kritis kali ya, atau abis diputusin cowoknya kali, atau enggak gajinya pasti kecil?”

Aku melirik jam yang tergantung di dinding, di atas lift. Waktu menunjukan pukul 23.40. Malam telah larut rupanya. Aku menoleh kearah kanan dan kiri, mencoba mencari seseorang yang bisa aku tanya. Akan tetapi, yang terlihat hanya lorong-lorong senyap yang semakin bersahabat dengan pekatnya malam.

Pertanyaan demi pertanyaan muncul didalm benakku. Kenapa aku harus ada disini, malam-malam tanpa membawa apapun? Hanya selembar pakaian yang kebetulan “nyangkut” dibadan ku itulah yang aku bawa. Kembali aku susuri lorong-lorong itu, berusaha mencari jawaban.

Aku ikuti langkah kakiku, turun melalui tangga menuju lantai dasar. Biasanya lantai dasar lebih ramai orang dari pada di bangsal.  Setidaknya aku bisa menemukan perawat yang lebih ramah dari perawat tadi yang aku temui.

Tibalah aku di depan ruang ICU. Di ujung lorong ada seorang pria dan wanita yang tengah berdebat seru.  Aku dekati mereka, sosok itu seperti familiar dengan ku.

Benar saja, mereka adalah orang-orang yang sangat aku kenal. Meskipun diantara kami saat ini, lebih menyukai urusan kami sendiri daripada saling mengenal satu sama lain. Segera aku menghampiri. Mereka tengah beradu mulut tampaknya. Hal yang sangat biasa terjadi. Mereka berdua adalah kedua orang tuaku. mama dan papaku.

“Pa.., Ma..,” sahutku lirih.

Mereka berdua acuh, terus saja saling beradu mulut.  Aku melihat mama berurai air mata sambil terus-terusan bicara, Papa pun tak mau kalah menunjuk-nunjuk sembari menyalahkan mama.

“Papa, Mama, ada apa sih ini?” Kukencangkan suaraku kembali.

Akan tetapi mereka tetap tak bergeming.       Mereka menganggapku seperti angin yang berlalu. Begitulah mama dan papa, jika ada sesuatu hal, mereka tidak pernah mendengar apa yang aku katakan. Mereka lebih senang memaksa kehendak dan menekan anaknya. Sementara mereka sibuk dengan urusannya masing-masing. Papa yang seorang pejabat publik lebih senang menghabiskan waktunya dengan urusan pekerjaannya, dengan urusan partai, dan lobi sana-sini. Sedangkan mama juga sibuk dengan teman-teman sosialitanya. Sementara aku dan adikku Dona, seperti ilalang liar yang dibiarkan tumbuh begitu saja. Akan tetapi, pada suatu saat bisa dicabut atau dipotong sesuka mereka. Aku tak bisa menolak, juga tidak bisa berontak.  Maka bagi ku, mereka adalah orang dewasa yang egois, yang suka memerintah dengan amat feodal.

Aku menyadari betul, Dona dan aku adalah golongan anak-anak yang sakit hati. Ironisnya, sakit hati kami terhadap orang tuanya sendiri. Karena aku tak berdaya melawan, maka aku melampiaskan dengan caraku sendiri. Aku akhirnya menjadi seorang “alcoholic” dan seorang “user”sesekali.

Pertengkaran mama dan papa akhirnya usai. Ketika seorang perawat memperingati untuk mengecilkan suara mereka masing-masing. Papa melengos pergi, meninggalkan mama yang wajahnya masih sembap.

“Pa, mau kemana?”

Papa diam saja, tidak menoleh ataupun menjawab. Aku malas mengikuti langkah kaki papa. Lebih baik aku dekati mama, mana tau dia akan bercerita apa sebenarnya yang terjadi.

Aku dekati mama, kulihat wajahnya ditutup dengan kedua tangannya.

“Donny” lirihnya.

Namaku dipanggil mama. Akhirnya mama menganggap juga keberadaan ku disini.

“Iya, Ma” jawabku.

“Donny…Donny…Mama sayang sama Donny”

Aku tersentak dengan ucapan mama. Tak biasanya mama bicara seperti itu dihadapan ku. Sambil menangis pula. Aku terharu sedikit, kupikir dia selama ini sudah lupa dengan anaknya sendiri. Aku pikir dia sama sekali tidak mempedulikan aku.

“Donny juga sayang sama Mama” sahutku sambil memegang tangan mama. Herannya, mama sama sekali tidak bergeming dengan jawabanku. Dia malah berdiri sambil melihat seseorang di balik tirai. Seseorang yang tengah tertidur di atas tempat tidur rumah sakit bersprei putih, lengkap dengan selang infus, kabel-kabel dan mesin penghitung jantung.

“Siapa yang sakit, Ma?” lidahku kelu.

Kembali mama membisu, dia berjalan gontai kearah sosok itu. Aku mengikutinya. Dalam hatiku berkecamuk pikiran, siapa orang yang berada di sana. Jika mama, papa, dan aku berada disini. Berati sosok yang ada di atas tempat tidur adalah Dona. Ah adikku sakit apa dia sampai harus dirawat seperti itu. Kenapa juga adikku sakit, aku tidak diberitahu. Atau mungkin aku tertidur di mobil sehingga aku ditinggal oleh mama dan papa.

Semakin mendekat ke sosok itu, jantungku semakin berdegup kencang. Sosok itu tidak mirip seperti Dona, perawakannya bukan seorang perempuan. Tepat di depan sosok itu, lutut ku tiba-tiba gemetar, jantungku menjadi linu, badanku terasa lemas. Sosok itu tergeletak tak berdaya dengan memar di sekujur tubuhnya, wajahnya hampir separuh tertutup oleh verban. Selang infus dan kabel aneka rupa yang tidak aku tahu fungsinya bertebaran di atas badannya. Meski demikian, aku hampir pasti mengenali sosok yang lunglai itu. Dia adalah sosok yang sangat aku kenal, dia adalah Donny Bhaskoro.  Ya, ternyata sosok yang tergeletak itu adalah aku.

Perlahan-lahan serpihan ingatan ku terkumpul. Aku mulai menyadari kenapa aku berada disini. Malam itu sehabis dari rumah Bismo, aku menyetir dalam keadaan mabuk setelah banyak menenggak whiski.  Seingatku, aku menabrak pohon di pinggir jalan, demi menghindari truk yang datang tiba-tiba dari arah depan. Setelah itu aku tidak ingat lagi.

Mama masih sesenggukan menatapku. Berkali-kali menyebut namaku lirih.

“Sudah Ma, aku sudah mati” aku ikut menangis disamping mama. Pantas saja dari tadi tidak ada yang mendengarku. Oh, ya Tuhan aku meratapi diri ku sendiri. Tubuhku seperti seonggok mesin tua yang “bobrok” padahal usiaku baru 18 tahun.  Dari luar saja sudah carut marut akibat kecelakaan, sementara bagian dalam tubuhku tidak lebih parah dari bagian luarnya. Usus-usus ku sudah seperti pipa-pipa “rongsok” yang bocor disana-sini, belum lagi ginjal, hati, dan lambungku yang sudah seperti mesin usang. Itu semua akibat konsumsi ku selama ini, minum-minuman beralkohol serta pola hidup yang tidak sehat.

“Ya Tuhan, masa aku mati muda dalam keadaan yang memalukan begini”, kataku kepada Tuhan. Sebenarnya malu juga aku meminta sama Tuhan. Di kemanakan selama ini Tuhan oleh ku? Dia hampir tidak pernah aku libatkan dalam memutuskan segala persoalan. Aku lebih suka menumpahkan masalahku kepada alkohol dan narkoba. Akan tetapi, kali ini aku butuh sekali bantuan Tuhan.

“Tuhan…Tuhan…tolong Tuhan, aku tidak ingin mati dengan cara seperti ini. Setidaknya aku ingin mati dalam keadaan berbuat baik, meskipun itu hanya sekali seumur hidupku.” Aku kian sesenggukan.

Tiba-tiba aku seperti terlempar dalam pusaran. Aku memejamkan mata, kepala ku semakin pening. Lamat-lamat aku terdengar suara banyak orang sedang mengalunkan sesuatu, yang jelas itu bukan suara orang bernyanyi. Mereka sedang mengaji. Meski aku tidak pernah mengaji, meski dirumah ku kitab suci hanya sebagai hiasan dinding. Akan tetapi, aku mengerti suara itu suara orang mengaji seperti yang selalu ada di televisi.

Aku membuka mata, aku tidak melihat mama di sebelahku. Aku juga tidak melihat jasadku. Yang aku lihat adalah banyak anak-anak yang mengaji dan membaca berbagai macam doa.

“Oh, dimanakah aku kini?”

Apakah anak-anak ini sedang mengajikan jasadku. Akan tetapi, ini bukan di rumah ku. Jangan-jangan ini surga. Masa iya, orang yang banyak dosa seperti aku bisa masuk surga. Lagipula, jika ini surga, mengapa tempatnya tidak sebagus dalam cerita. Tempat ini terlalu sederhana. Bahkan, cat dinding nya banyak yang terkelupas, karpetnya tipis seperti kain sarung.

“Masa iya surga begini ?”

Aku melihat seorang yang berjanggut putih dengan peci dan koko yang sama putih. Seorang tua yang aku taksir umurnya di atas 70 tahunan. Dia duduk di paling depan. Sepertinya itu kyainya. Dia memimpin doa dengan khusyu, anak-anak dibelakangnya mengaminkan apa yang dikatakan sang kyai.

Kupandang wajah tua sang kyai, aku duduk di sebelahnya persis. Wajah teduh nya membuat aku merasa nyaman. Tampaknya aku kenal dengan orang ini. Aku melihat sisi-sisi dinding, kubaca tulisan yang menempel di sudut dinding. “Jadwal Muadzin, Masjid Al Barkah, Yayasan Al Barkah”.

Aku ingat sekarang, ini adalah yayasan tempat papa sering menyumbang. Yayasan tempat menampung anak-anak yatim.  Kyai yang sedang memimpin doa itu adalah kyai pimpinan pesantren ini, yang beberapa kali datang kerumah ku.

Papa memang menjadi donator tetap di yayasan ini. Meskipun sebenarnya aku tahu niat papa tidak benar-benar tulus. Papa hanya ingin dikenal sebagai orang yang dermawan dan itu baik untuk pencitraannya.

Samar-samar aku mendengar nama ku disebut-sebut oleh pak kyai. Mulanya aku pikir aku salah dengar. Maka, ku simak lagi baik-baik. Ya, kali ini aku tidak salah dengar. Namaku memang berkali-kali disebut oleh kyai ini, bahkan juga nama papa, mama dan Dona. Hanya nama mereka tidak sesering menyebut namaku.

Aku tidak tahu apa yang dibacakan pak kyai, sebaris pak kyai membaca doa, gema amin dari anak-anak ini begitu membahana. Hatiku diliputi rasa haru tiada terkira. Aku sama sekali tidak mengenal mereka, belum pernah juga berjumpa langsung dengan mereka,tetapi mereka tulus mendoakan aku.  Meskipun bantuan papa tidak seberapa untuk yayasan ini. Meskipun papa tidak benar-benar tulus membantu nya, tetapi mereka sangat tulus mendoakan kami semua.

Aku merasa menjadi seorang yang sangat kerdil dihadapan mereka. Aku merasa malu, teramat sangat malu. Masa mudaku kusia-siakan. Aku juga menyalahkan orang tua atas kehancuran hidupku. Betapa aku tidak mensyukuri apa yang aku dapatkan.

Aku nangis meraung-raung.

“Tuhan…Tuhan…aku ingin mati dalam keadaan baik”

Aku menangis, berteriak, meronta, kembali menangis, berteriak meronta, begitu berulang-ulang hingga badan ku menjadi lemas sekali. Lemas hingga aku merasakan tubuhku bak bulu diterbangkan angin. Terombang-ambing ke kiri-ke kanan. Lemas..lemas sekali.

Sekarang tubuhku terasa berat, aku bisa merasakan udara masuk ke dalam hidungku. Mataku terasa sangat sulit dibuka, perlahan-lahan kulihat seberkas cahaya. Samar-samar kulihat wajah mama di sebelahku. Wajah mama kelihatan panik. Dia berteriak-teriak di sampingku.

“Subhanallah …Donny…Donny….Dokter…Dokter..…toloong…cepat…cepat..”

Kemudian semua kembali menjadi gelap. Suara mama kembali hilang.

 

Catatan :

Cerpen ini pernah menjadi 200 karya favorit kategori C Lomba Menulis Cerita Remaja ROHTO tahun 2011.

 

Advertisements

6 thoughts on “Cerpen : Garis Batas

  1. Huwaaaaa bakat terpendam nih Fitri, ayo Fit kumcer nya dibukukan dong 😀
    Adegan yang “Aku ingin matiiiii………….” bikin ingin nangis ih , terbawa emosi heheheh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s