Ah…Cinta!

Malam larut saat itu, kulihat dirinya begitu lelah.  Wajahnya terlihat pucat, namun senyum masih tersungging di bibirnya.  Suaranya hari itu begitu parau. Ku pegang dahinya, panas.  Dia demam.

Aku hanya terdiam melihatnya sakit.  Bingung dan tidak tahu apa yang harus aku lakukan.  Ada perasaan khawatir dan iba namun egoku berkata lain.  Diri nya masih bukan siapa-siapa di hatiku.  Dirinya adalah orang asing di kehidupanku.  Namun,  pria yang tergolek lemah di sampingku sekarang telah sah menjadi suamiku.  Tapi aku malah merasa tidak teralu mengenalnya.

Aku ingat dini hari kemarin kita bertolak dari Jakarta menuju Bali.  Tiket dan hotel telah disiapkan oleh kakak ku, sebagai hadiah pernikahan kita.  Mereka bilang, “Pergilah kalian berdua, nikmati keindahan pulau Dewata, berisiklah disana”.

Harusnya aku senang.  Harusnya aku bahagia.  Bukankah ini yang aku idamkan? liburan di pulau dewata dengan orang terkasih. Tapi di sisi lain, perasaan bertanya, mengapa dengan dia?  Kalau aku katakan pada kalian bahwa aku menikah bukan karena cinta, melainkan karena keyakinan percayakah kalian?

Tentu saja bukan urusanku jikalau orang tidak percaya.  Dalam hidup kita tidak bisa menuntut apa yang menjadi keinginan kita.  Pun begitu dengan perasaan dan pilihan hati.  Sejujurnya satu-satunya keputusan yang aku lakukan banyak melibatkan Tuhan adalah keputusan ku menikah. Ya menikah dengannya…

Sebelum menikah, aku memang tidak pernah jalan berdua, makan berdua, apalagi nonton berdua dengannya.  Satu-satunya yang membuat dekat adalah email.  Email yang berbalasan tanpa ada sepatah katapun kata romantis.  Lalu akupun bersimpuh dihadapan Tuhan meminta jawaban dan pertolongan, ketika dia ternyata meminangku.  Ternyata keyakinanku bertambah…dia mungkin orang yang tepat untuk ku.

Lalu kenapa sekarang aku begitu bingung.  Aku begitu canggung, begitu kaku. Padahal melihatnya tergolek lemah tak berdaya ternyata membuat diriku yang sehat wal afiat ini menjadi ikut-ikutan sakit. Padahal bibirnya semakin memerah menandakan suhu tubuhnya semakin tinggi.

Tibatiba aku teringat sejak sebelum pernikahan hingga setelah pernikahan dirinya begitu repot mengurus ini dan itu.  Sementara aku sibuk dengan diriku sendiri.  Aku hampir tidak pernah menanyakan bagaimana perasaan dan kondisinya.  Bahkan, setelah sah menjadi suami istri aku masih menganggap  dia adalah orang lain.  Aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan keluarga daripada dengan dirinya.  Sementara dia berkutat memenuhi apa yang menjadi keinginan aku.  Oh!

Tapi ah..tapi…aku masih bodoh sebagai istri.  Aku merasa tak bisa berbuat apapun.   Aku begitu malu untuk menunjukan kekhawatiranku.Rasanya aku ingin bertukar tempat.  Biar diri ini saja yang sakit, jangan dirinya.

Kebodohan ku akhirnya terjawab ketika gerimis berjatuhan dari pelupuk mataku. Aku begitu sedih dan kecewa dengan diriku.  Baru kali ini aku begitu khawatir dan iba kepada seseorang.   Tapi aku seperti keledai dungu yang tak bisa apa-apa.  Hanya bisa menangis sesenggukan saja.

Dirinya yang sejak tadi mencoba memejamkan mata, akhirya melirik ku.  Kulihat dia begitu bingung.  Lalu tangan yang hangat  menyentuh pipiku kemudian menghapus bulir-bulir air mata ku.  Ku lihat matanya. Mata sendu itu.  Ah perasaan apalagi ini! Ditatap mata sendu itu, mengingatkan aku pada rumah.  Tempat aku pulang dan bersandar.   Kemudian dia tersenyum sambil meyakinkan aku untuk tidak perlu khawatir.  Dia merasa bahwa dirinya tidak apa-apa.

Sejurus kemudian, oleh kata-kata lembutnya.  Oleh  semua sikapnya, aku benar-benar meleleh.  Kupeluk erat dirinya yang semakin menghangat.  Perasaan nyaman,   aman, damai, dan tenang ku rasakan.  Aku menyukai senyumnya, bibirnya, matanya, tangannya, bahunya, sikapnya, dan semua tentang dirinya from head to toe.  Kelak dibahunya menjadi tempat ku untuk bersandar, menumpahkan segala masalah.  Kelak tangan hangatnya selalu siaga ketika aku membutuhkannya.  Kelak dialah orang yang pertama yang paling mengerti aku.

Akupun menyadari satu hal tentang perasaan yang begitu indah ini.  Mungkin  inilah cintaku, a first true love…Cinta yang entah apa definisinya.  Ah…cinta!

2013-01-27 05.03.18

 

Artikel ini diikut sertakan  dalam “My First Love Giveaway” Aprint Story

banner GA

 

 

 

 

 

Advertisements

16 thoughts on “Ah…Cinta!

  1. @Helda : hahaaa … lagi latian nulis nih mbak sambil memilah-milah kata. Tangan kaku2 soalnya kalo disuruh nulis yang berbau2 c seperti cerita. Tapi ini termasuk apa ya cerpen bukan, ff bukan, curcol aja deh jatohnya :D:D.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s