Dimana Ruang Bermain Anak ?

Kapan hari, saudara saya datang kerumah bersama anak-anaknya.   Saudara ini ternyata punya anak 4 orang dengan jarak yang tidak terlalu jauh.  Paling besar anaknya kelas 5 SD, sisanya sudah dapat dipastikan jaraknya sedikit-sedikit. Menariknya empat orang anaknya ini sangat sedikit sekali berkomunikasi. Selama mereka bertamu, anak-anaknya sibuk bermain gadget, kecuali anak yang paling kecil karena belum mengerti.  Tidak tanggung-tanggung satu anak satu gadget.

Di hari yang sama dan jam yang sama saudara yang lain juga datang membawa dua anaknya.  Ternyata dua anak dari saudara yang lain sama saja.  Menunduk dan serius bermain gadget.  Diantara anak-anak tersebut tidak ada saling sapa.  Tak ada komunikasi.  Mereka diam, tenang, tapi masing-masing sibuk bermain sendiri.

Sebagai orang dewasa yang masa kecilnya belum tahu gadget, tentu saja saya merasa aneh.  Dulu ketika saudara seumuran  saya datang.  Bukan main senangnya.  Kami main bersama di luar rumah.  Berlari, menyanyi dan kotor-kotoran bersama bermain permainan tradisional.  Dari mulai petak umpet, karet, gundu, layangan, dan banyak lagi.

Sekarang sepertinya semua sudah tergantikan dengan gadget.  Memang tidak dapat di pungkiri, seiring berkembangnya zaman, permainan-permainan tradisional mulai meredup.  Permainan-permainan itu kalah dengan permainan anak yang lebih modern.  Ini tentunya tidak luput dari perkembangan teknologi, perubahan serta penyempitan lahan.  Apalagi di kota seperti Jakarta ini.   Lahan kosong kian lama kian terganti.  Padahal  umumnya permainan tradisional memakai halaman atau lapangan sebagai arena bermain.

Saya ingat, sekitar 10 tahun yang  lalu saya ingin belajar naik motor.  Waktu itu saya dan kakak saya mencari lapangan terbuka supaya saya bisa bebas belajar.  Nyatanya mencari lapangan saat itu susah bukan main.  Berulangkali saya berpindah pindah dari lapangan satu ke lapangan yang lain, tempat saya bermain dahulu.  Nyatanya, semua lapangan itu sudah menjadi rumah dan area pertokoan. Akhirny setelah tanya sana-sini akhirnya menemukan lapangan juga.  Itupun bukan lapangan umum tetapi milik sebuah komplek perumahan militer.  Itu sudah 10 tahun yang lalu, bagaimana lagi dengan sekarang?   Saya jadi merasa kasihan dengan anak-anak yang ada di sekitaran rumah saya saat ini.  Kemana mereka bermain? Kemana mereka berlari-larian?

Ada sih berbagai arena futsal namun itu membutuhkan kocek yang tidak sedikit.  Gelanggang olah raga pun hanya satu-dua di satu wilayah, itupun terkendala jarak, dibatasi jam pemakaiannya serta harus bergantian.  Sekolah masing-masing memang memiliki lapangan tapi pergaulan anak tentnya juga di sekitar sekolah saja.   Lalu bagaimana  anak-anak pinggiran Jakarta seperti saya akan bermain? yang tidak perlu bayar, yang tidak jauh dari rumah, yang tidak perlu meminjam dengan prosedur yang sulit hanya untuk bermain bola dan sebagainya. Bahkan yang boleh bermain bergabung dari kampung A dan kampung B. Bercampur dari sekolah manapun juga.

Saya pernah melihat segerombolan anak-anak bermain bola dan layangan di jalanan.  Bukan jalan perumahan yang buntu, tapi jalanan hidup yang dilalui banyak orang dan kendaraan.  Lebih miris lagi ketika saya melihat dengan mata kepala sendiri anak-anak bermain bola di  tanah-tanah miring dengan sudut kemiringan 45-60 di sisi Jalan Tol.  Itu saya lihat ketika saya melewati jalan dari Pasar Rebo menuju Cilandak. Bayangkan!

Mau marah? kasihan.  Gak marah? menganggu bahkan membahayakan.  Sungguh saya tidak menyalahkan anak-anak.  Pun tidak menumbalkan teknologi untuk dipersalahkan. Mungkin dalam hal ini, orang-orang dewasa seperti saya yang harus disalahkan.  Mengapa kita terlampau egois.  Membangun sana sini untuk bisnis dan sebagainya tetapi tidak memikirkan untuk generasi mereka.  Generasi yang harus tumbuh di tempat yang sempit.  Orang-orang dewasa dengan seenaknya membangun tanpa pernah berpikir bahwa anak-anak butuh ruang untuk bermain. Kata orang dewasa, mencari uang untuk anak, nyatanya kadang anak tak diberi ruang gerak.  Seolah ruang gerak anak ikut menyempit dari lapangan terbuka menjadi layar yang hanya berukuran berapa sentimeter.

Mungkin karena itulah anak-anak kota jadi suka bermain gadget.  Gadget memang jauh lebih menarik.  Tapi kalaupun mereka mau bergerak, kemana? dimana?

Melihat kondisi sekarang, saya menjadi rindu dengan masa kecil.  Dengan permainan masa kecil yang segala aktivitasnya sering di luar rumah.  Bermandikan matahari hingga rambut cokelat dan kulit menghitam…ah sungguh rindu rasanya dengan masa itu. Untuk mengenang masa kecil saya yang indah saya mau tulis beberapa jenis permainan tradisional.   Postingan saya tentang Mengenang Permainan Tradisional akan saya posting selanjutnya.

 

Advertisements

6 thoughts on “Dimana Ruang Bermain Anak ?

  1. Kalau di daerah2 msh byk ruang buat anak2 bermain mba, tp kl di Jakarta memang susah.
    Jgnkan utk anak bermain, utk rmh tinggal saja suse amiir 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s